Rakyat Merdeka Online

Share |
Ikhlas Beribadah
Oleh Hatta Rajasa
Jum'at, 03 Agustus 2012 , 00:38:00 WIB

  

SETIAP mukmin yang baik dituntut agar selalu ikhlas dalam beribadah. Secara sederhana, ikhlas artinya melakukan sesuatu tanpa pamrih. Bersedekah dengan ikhlas berarti memberikan sesuatu pada orang lain tanpa mengharap balasan. Satu-satunya yang diharapkan hanyalah ridha Allah SWT.

Tentang pentingnya sifat ikhlas ini dijelaskan secara eksplisit dalam Al-Quran Surat Al-Bayyinah ayat 5 yang berbunyi, "Dan tiadalah mereka disuruh melainkan agar menyembah Allah serta mengikhlaskan agama kepada-Nya". Karena itu, makna ibadah sangat tergantung kualitas keikhlasan yang mengiringi ibadah tersebut.

Beribadah dengan ikhlas tidaklah mudah. Banyak persoalan hidup yang selalu menjadi kendala. Sering sekali ibadah yang dilakukan bukan karena Allah melainkan karena sesuatu selain Allah.

Orang yang tidak ikhlas disebut riya'. Riya' adalah beribadah dengan maksud pamer kepada manusia untuk mendapatkan pujian dan penghormatan. Para ustadz dan penceramah kita sering mengatakan bahwa riya' adalah perbuatan syirk kecil. Dikatakan syirk kecil karena menempatkan penilaian manusia di atas penilaian Allah. Pujian manusia dianggap lebih tinggi harganya daripada meraih ridha Allah.

Dengan demikian, seluruh ibadah yang didasarkan atas niat riya' menjadi tidak bermakna. Kalaupun bermakna, paling tinggi hanya sebatas pujian dan penghormatan orang lain. Padahal, pujian dan penghormatan itu hanyalah fatamorgana duniawi yang bersifat sementara dan temporal.

Salah satu hikmah lain dari diperintahkannya ibadah puasa adalah untuk membina jiwa-jiwa yang ikhlas. Berbeda dengan ibadah shalat, zakat, dan haji, ibadah puasa sifatnya sangat rahasia. Orang lain tidak tahu apakah seseorang berpuasa atau tidak. Dengan berpuasa, gejolak hati untuk bertindak riya' dapat dikendalikan. Satu-satunya yang diharapkan dari ibadah puasa adalah ridha Allah SWT.

Tuntutan untuk berlaku ikhlas tidak hanya dalam pelaksanaan ibadah mahdhah. Bekerja dan mengabdi untuk masyarakat juga harus didasarkan atas niat yang ikhlas. Keberhasilan seseorang dalam menjalankan amanah tidak hanya diukur dengan hal-hal yang bersifat materil tetapi juga spiritual. Karena itu, ikhlas adalah jembatan penghubung antara aktivitas duniawi dengan orientasi ukhrawi. Wallahua'alam.[***]

Penulis adalah Menko Perekonomian


Baca juga:
Mengharap Ampunan Allah
Berperang Melawan Nafsu
Mewaspadai Bahaya Fitnah
Menjauhi Bahaya Ghibah
Menanamkan Sifat Amanah

Tafsir "Terima Kasih" Anas

Uang Muter untuk September yang Padat


Jokowi-JK Anti-Neolib Salah Kaprah


Cek Kesehatan Keuangan (3)


 

Bisa Dipastikan Indonesia Juara Umum AUG 2014

Bisa dipastikan Indonesia akan menjadi juara umum di ajang ASEAN Universit ...

 

Bulutangkis Sumbang Dua Emas Terakhir untuk Indonesia

Bulutangkis menjadi cabang olahraga (cabor) terakhir di ajang ASEAN Univer ...

 

Moreno: Mau Awasi PSSI, Harus Sesuai Statuta FIFA!

Semua pihak boleh saja mengoreksi PSSI. Tapi, urusan pembinaan sepakbola s ...

 

Susanto Yakin Juarai Catur Christmas Cup

Pecatur nasional GM Susanto Megaranto optimistis mampu menjuarai turnamen ...

 

Bermain 10 Orang, Milan Tahan Imbang Serigala Ibukota di Olimpico

Meski bermain hanya dengan 10 pemain, AC Milan berhasil menahan imbang tua ...

 

Unggul Jumlah Pemain, MU Gagal Tundukkan Aston Villa

Klub raksasa Inggris Manchester United harus puas berbagi poin satu saat b ...

 

Exco PSSI: Naturalisasi Timnas Indonesia Blunder!

Indonesia salah melakukan naturalisasi pemain sepakbola. Alasannya, pemain ...